Tanggal 29-30 September 2011 diadakan Solo Keroncong Festival di kawasan Ngarsopuro, yang dilanjutkan dengan lomba cipta lagu keroncong pada tanggal 1 Oktober 2011 yang bertepatan dengan hari ulang tahun almarhum Bapak Gesang.
Karena ada hal yang harus dikerjakan di Jakarta, saya hanya dapat mengikuti acara SKF 2011 hari kedua serta final lomba cipta lagu keroncong.
Ternyata minat penggemar keroncong untuk menyaksikan SKF 2011 sangat besar, untunglah acara ini diadakan di outdoor dan dilengkapi dengan dua layar lebar oleh TATV yang juga menyiarkan acara ini, sehingga penonton yang tidak dapat kursi masih dapat tertampung dan menyaksikan pertunjukan dari sisi-sisi panggung. Penonton yang datang ternyata bukan hanya warga Solo tetapi juga dari kota-kota lain di sekitar Solo.
Acara hari kedua diawali dengan beberapa orkes dan penyanyi keroncong remaja. Saya sangat gembira menyaksikan anak-anak usia sekolah mampu dan mau memainkan musik keroncong, walau kualitas permainan dan teknik vokal mereka masih belum matang, namun minat dan potensi mereka merupakan titik cerah untuk perkembangan musik keroncong Indonesia di masa depan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan persembahan keroncong orkestra dari ISI Yogyakarta di bawah pimpinan Imoeng Cr, instrumental saxophone, orkes keroncong dari Singapura dan Sumatera Selatan, serta penyanyi Indah Laras. Ada juga penampilan serta seorang penyanyi wanita Jepang yang dengan fasih membawakan lagu Bengawan Solo dan Ngalamuning Ati. Beliau fasih berbahasa Jawa karena telah cukup lama menetap di Jawa Tengah.
Yang menjadi daya pikat tersendiri pada pertunjukan hari itu adalah duet antara legenda keroncong, Waldjinah, dengan Hudson. Penampilan yang dinamis dan prima dari keduanya (atau ketiganya?) dalam membawakan lagu Gethuk sangat menghibur seluruh penonton yang menyaksikan acara ini.
Setelah itu tampil juga Anastasia Astuti yang dengan prima membawakan 3 buah lagu yang menghangatkan suasana dengan mengajak penonton untuk ikut bernyanyi, dilanjutkan dengan grup musik Harmoni dari Bandung yang memadukan lagu daerah dengan alat musik tradisional Chinese, lalu disusul dengan orkes keroncong dari Malaysia, dan ditutup oleh orkes keroncong dari Solo dan Semarang.
Keesokan darinya diadakan pula lomba cipta lagu keroncong dengan 12 orang finalis. Tampil sebagai pemenang pertama adalah Jayeng Katon dengan lagu Keroncong Juwita Mestika Buana.
Rangkaian acara hasil kerja keras HAMKRI Solo dengan dukungan penuh Pemkot Solo ini benar-benar menjadi pemuas dahaga bagi para pencinta musik keroncong. Para penonton juga ramai mengunjungi dan membeli album-album keroncong di stand Gema Nada Pertiwi
Pada tanggal 1 Oktober yang bertepatan dengan hari ulang tahun almarhum Bapak Gesang, saya melakukan ziarah ke makam beliau dan juga mengunjungi Bapak Thoyib (adik beliau dari lain ibu) yang ditunjuk menjadi ahli waris oleh alm Bapak Gesang.
Catatan yang terlewat di bulan Agustus.
Pada awal Agustus 2011 Penerbit Karya Musik Pertiwi (PMP) melakukan kunjungan ke beberapa pencipta lagu dan ahli warisnya di kota Solo dan Yogyakarta untuk silaturahmi dan sekaligus melakukan penyerahan royalty atas pengelolaan karya cipta mereka yang dilakukan oleh PMP pada periode Januari – Juni 2011. Beberapa pencipta dan ahli waris tersebut antara lain adalah ahli waris Gesang, keluarga Andjar Any, keluarga Kusbini, keluarga WS Nardi, keluarga Hardiman, Jayeng Katon, dll.







terima kasih utk ulasan kegiatan tsb… Gb
Jadwal ke Solonya ngga pernah bareng ya Mas