Antri oi!!

Salah satu “penyakit” yang sering saya jumpai di tempat umum adalah susah antri. Kayaknya hal ini sudah sampai mendarah daging. Akarnya entah apakah kurang diajarkan di sekolah, atau kurang ditekankan di rumah, atau sejak kecil banyak melihat contoh buruk di masyarakat? Kalau seorang anak kecil melihat orang tuanya sering menyerobot antrian, bagaimana diharapkan si anak bisa belajar tertib dalam antrian?

Selain itu ada kecenderungan permisif terhadap penyerobot antrian baik oleh orang yang diserobot maupun petugas yang melayani antrian, entah karena sungkan, malas menegur, takut ribut, atau malah sudah dianggap lumrah?

Saya selalu ingat pengalaman sewaktu study tour di Taiwan. Waktu itu rombongan anak-anak (SMP-SMA-kuliah) Indonesia baru tiba di asrama dan oleh pemandunya diumumkan bahwa penukaran uang dapat dilakukan di counter dekat tangga. Dalam sekejap puluhan orang sudah bergerombol tidak beraturan di depan counter sambil mengacung-acungkan uang yang mau ditukar. Melihat keadaan kacau begitu, si kakak penjaga counter langsung duduk melipat tangan sambil berkata “Kalau tidak antri rapi saya tidak akan layani.” Dan kakak tersebut benar-benar diam sampai akhirnya anak-anak bisa membentuk barisan yang tertib dan rapi baru akhirnya penukaran uang mulai dilayani.

Kalau disini, ada beberapa (sebagian kecil) contoh yang pernah saya alami. Ini contoh di tempat-tempat yang sudah jelas-jelas ada antriannya. Di tempat yang tidak ada jalur antriannya sih sudah tidak usah diomongin lagi deh. Sakit hati!

1. Di toko buku G di kota Bandung.
Saya sedang antri bayar di kasir ketika ada seorang anak (sekitar umur 7) berdiri di belakang saya. Lalu Ibunya menarik anak itu lalu berkata “Tuh, langsung dari depan saja”. Anak itu lalu berjalan ke arah jalur keluar kasir, dan langsung menyodorkan barang belanjaannya ke kasir. Saya sengaja mendiamkan karena ingin tahu apa reaksi si kasir. Ternyata oleh si kasir anak tersebut langsung dilayani proses pembayarannya. Sewaktu tiba giliran saya, saya bertanya pada si kasir
Saya : “Mbak, sekarang di G antrian sudah berubah aturannya ya?”.
Kasir : “Berubah bagaimana Pak?”
Saya : “Sekarang antriannya dari depan ke belakang ya?”
Kasir : “Ngga Pak”
Saya : “Kok tadi anak itu antri dari depan langsung dilayani?
Kasir : Diam seribu bahasa sambil menunduk

2. Di swalayan mini I di Jakarta
Saya sedang antri juga waktu ada orang yang langsung menyerobot menaruh barang & uang di kasir. Sewaktu saya lihat si kasir langsung mengambil belanjaan orang itu untuk di-scan dan mengabaikan pelanggan lain yg sedang antri (saya & satu orang lagi), saya langsung menegur si kasir dan memanggil supervisor toko. Si supervisor lalu menegur si kasir agar melayani sesuai antrian & si penyerobot tadi diminta ikut antrian. Bonusnya : dipelototin sama yang nyerobot tadi, ngga senang dia karena ngga bisa nyerobot dan ngga merasa salah pula sudah mencoba nyerobot.

3. Di halte busway
Sore itu antrian di halte transjakarta mangga besar arah blok m sudah terbentuk antrian rapi yang cukup panjang, sekitar 30 baris ke belakang.  Lalu datang seorang Bapak, dia berkata “Aduh ramai ya”, lalu dengan santainya berjalan ke bagian depan antrian lalu berdiri di sebelah orang di antrian depan. Di bagian tengah & belakang antrian terdengar kasak-kusuk tetapi tidak ada yang berani menegur. Akhirnya saya tidak tahan juga dan berkata dengan suara agak keras “Maaf Pak, semua yang disini dari tadi sudah antri Pak, tolong antri dari belakang dong”. Bapak itu lalu celangak-celunguk sejenak lalu berkata “Oh antri ya?”lalu dengan malu berjalan ke belakang antrian.
(pura-pura bodoh – capedeh)
Satu kejadian lagi di salah satu halte yang ada pintu naik bus khusus untuk ibu hamil dan yang membawa anak-kecil. Antrian siang itu memang luar biasa sih, saya sudah 20 menit masih belum kebagian naik bus. Kebetulan ada seorang ibu hamil yang sedang mengantri lalu oleh petugas diarahkan ke pintu khusus tersebut. Saat bus tiba dan pintu khusus tersebut dibuka, ada seorang Bapak yang dengan sigap lari dan meloncat masuk ke dalam bus melalui pintu itu sebelum si Ibu sempat naik. Tapi anehnya petugas yang di halte dan di dalam bus kok membiarkan saja ya?

4. Di antrian ATM
Saya tiba di depan pintu gerai atm bersamaan dengan seorang Ibu. Saya lihat di depan pintu ada 3 orang yg sedang berdiri. Si Ibu itu dengan cueknya membuka pintu atm dan langsung masuk. Saya lalu bertanya pada orang yang berdiri paling depan “Lagi antri kan Mbak?” Lalu dijawab “Iya sih”. Saya lalu antri di belakang tiga orang itu sambil berkata dalam hati “Yang nyerobot tadi ditegur dong, kok pada cuek sih”

5. Antrian imigrasi bandara Jakarta
Saya sedang antri di bagian imigrasi bandara Soekarno Hatta. Ketika saya sudah berada di bagian paling depan (garis kuning) dan menunggu orang di depan saya sedang dilayani, tiba-tiba ada seorang pria usia 30an dari berjalan dari samping dan langsung berdiri di depan saya. Saya coba sindir “Kayaknya ada antrian deh disini.” Tapi orang itu hanya menengok sedikit lalu pura-pura tidak dengar dan langsung maju ke meja imigrasi karena kebetulan yang depan sudah selesai. Kali ini biarin deh, yang waras sekali-kali ngalah.

5. Antrian di resepsi pernikahan di Hotel M di kawasan S, Jakarta
Pesta pernikahan mewah di hotel bintang lima. Tamunya pun keren dengan jas & dasi, batik, atau gaun pesta. Tapi tetap saja sewaktu antri ambil makanan ada yang langsung motong antrian. Susah memang kalau sudah jadi naluri.

7. Di sebuah counter pengiriman jasa kurir J** di Jakarta
Kebetulan di counter yang ini tidak ada pengambilan nomor antrian, jadi etikanya tahu sama tahu siapa yang duluan. Tapi dasar rejeki datang terus, waktu pengirim yang dilayani sudah selesai, ada satu orang Ibu yg belum lama datang langsung menyerobot maju. Setelah ditegur oleh yang lain baru deh dia mundur dan diam.

Tetapi ternyata sikap suka menyerobot antrian tidak hanya ada di masyarakat Indonesia. Beberapa kali di luar negeri saya juga pernah “berjumpa” dengan penyerobot antrian :

1. Di Hongkong Disneyland
Sudah 15 menitan antri atraksi Flying Elephant tiba-tiba dari belakang antrian terdengar suara ribut-ribut, ternyata ada 5 orang ibu-ibu usia 50-an dari RRC menerobos dari belakang antrian tanpa menghiraukan protes orang2 yang sedang antri. Di belakang saya ada pasangan muda-mudi orang Hongkong yang protes keras & coba menghalangi tapi mereka tetap menerobos. Saya lalu sengaja pasang badan berdiri di tengah jalur antrian, tapi dua orang ibu lolos dengan mendorong badan saya ke samping. Akhirnya saya membentangkan tangan kanan & kiri saya ke pagar supaya sisa tiga orang sisanya tidak bisa lewat. Sudah demikianpun mereka masih ngotot mendorong-dorong & berusaha melewati bentangan tangan saya sambil ngomel karena merasa dihalangi. Ampun deh…

2. Di Zaanse Schaan Belanda
Waktu mau naik ferry menyeberang ke Zaanse Schaan, di dermaga sudah terbentuk antrian yang rapi sekitar tigapuluhan orang. Saat kapal merapat dan pintu dibuka, ada 3 orang yang ngobrol dengan lantang dalam bahasa Italia berjalan langsung melewati antrian (lewat jalur yang seharusnya untuk penumpang turun dari ferry). Sepertinya karena kapasitas ferry yang cukup besar dan semua yang antri pasti kebagian naik, maka tidak ada yang protes. Yang ada hanya tatapan-tatapan sinis ke mereka bertiga selama perjalanan di atas ferry.

Tapi secara umum dari pengamatan terbatas saya di luar negeri seperti di Singapore, Belanda, dan Jepang antri itu sudah jadi budaya. Umumnya orang disana bisa antri dengan tertib sekalipun tidak ada garis antrian yang resmi.

Semoga etika antri dengan tertib juga bisa menjadi budaya di masyarakat Indonesia.

One Response to Antri oi!!

  1. setyabud says:

    thanks sharing pengalaman ngantre… moga makin tertib bangsa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: